Lompat ke isi

Kisah Kenangan (2): Nembak di Sudut Sekolah

1 Februari 2012

Menyambung kisah nostalgia saya saat pertama kali bertemu dan pacaran dengan wanita yang kini menjadi istri saya, berikut ini adalah penggalan kedua dari cerita itu.  Episode lalu, baca di sini. Sejak saya menemui si gadis galak itu di sungai bawah, saya terus teringat padanya. Saya terus memikirkan bagaimana cara mendekatinya. Ah, ada satu cara. Ya, sahabatnya itu (cewek). Kebetulan sahabatnya itu masih saudara saya. Saya akan angkat dia sebagai ‘Mak Comblang’ kami.

Setiap ada kesempatan, saya mengorek keterangan dari si Comblang ini. Saya tanya apakah dia (si gadis galak) pernah membicarakan saya. Entah kenapa sejak kejadian timba dan kerikil itu, saya enggan bertemu langsung dengan si gadis galak itu. Ketika tak sengaja kami akan berpapasan, melihatnya dari jauh saya sudah dag dig dug. Dan ketika sudah mendekat, ah… kaku beku. Paling-paling sekedar menyapa ‘mau kemana’, gitu aja.

Nembak Langsung

Lalu ada kabar gembira dari si Comblang. Suatu malam setelah belajar bersama, si Comblang nginep di rumahnya si gadis galak. Dan sebelum tidur, si gadis galak terus membahas tentang saya (ge-er). Saat menceritakan hal itu kepada saya, si Comblang memberikan pertimbangan, “Baiknya kamu tembak dia aja langsung, nanti saat jam istirahat. Yakin deh, pasti diterima.” Aha… saya mendapat harapan besar.

Mata pelajaran pertama hari itu saya lewati dengan gelisah. Ketika lonceng istirahat pertama berbunyi, detak jantung saya langsung memburu. Si Comblang sudah mengatur agar si gadis galak berada di pojok teras salah satu kelas. Saya mendekat dengan sejuta rasa campur aduk. Si Comblang pamitan pergi dengan alasan meyakinkan. Ah, tinggallah kami berdua.

Setelah basa-basi dulu ngalor-ngidul, saya akhirnya beranikan diri untuk berkata, “Sebenarnya…. sebenarnya… Saya suka sama kamu.” Berrrrr! Begitu kalimat itu berakhir, rasanya sekujur tubuh ini bergetar menanti jawaban. Beberapa detik saja serasa dua jam.

“Saya nggak bisa ngasih jawaban sekarang,” kata si gadis galak perlahan dan lembut. “Saya tahu bli masih punya pacar. Saya tidak mau merebut cowok orang.” Hah? Dari mana dia tahu?

“Tapi hubungan kami sudah tidak bisa dipertahankan lagi, Luh,” kata saya meyakinkan. “Ada hal yang sangat prinsip yang membuat kami sepertinya harus berpisah; perbedaan keyakinan,” ucap saya semakin serius. “Ya, saya tahu. Tapi sebaiknya bli selesaikan dulu masalahnya. Sementara saya masih mempertimbangkan jawaban…” kata si gadis yang saat itu tak  lagi galak.

“Teng, teng, teng…” bunyi lonceng menandakan waktu istirahat habis. Dan kami kembali ke kelas masing-masing. Gelisah… dan galau menyelimuti saya waktu itu.

Surat Penentu

Esok malamnya, saya benar-benar menyelesaikan kepastian status hubungan saya dengan pacar sebelumnya. Ya, akhirnya kami berpisah. Segera setelah itu saya menemui si Comblang, menanyakan bagaimana perkembangan penyelidikannya terhadap si gadis. Si Comblang menyarankan saya untuk membuat surat khusus untuknya. Menurut Comblang, dengan surat kita lebih bisa mengolah kata dan bebas bertutur tanpa harus disela seperti saat bicara langsung.

Malam itu saya mencurahkan segala keahlian bahasa, kesenian menulis, dan kemampuan merayu yang saya punya. Entah sudah berapa lembar kertas yang saya remas karena saya anggap kurang sempurna. Akhirnya, setelah melalui proses editing berkali-kali, sebuah surat beramplop wangi saya serahkan kepada si Comblang. “Tolong berikan ini padanya,” pinta saya.

Singkat cerita; Setelah beberapa hari menunggu dalam gelisah, akhirnya surat balasan itu datang juga. Ini adalah surat penentu, begitu pikir saya. Baris demi baris saya baca. Hingga sampailah pada kata; “saya menerima Bli Tu, tapi dengan syarat….” Hah? Cinta bersyarat? Tapi nggak apa-apa. Begitu banyak poin yang menjadi persyaratannya, terserahlah. Yang penting satu hal; SAYA DITERIMA!

Sejak itu kami resmi pacaran. Dan ada sedikit tuntutan saya sebagaimana layaknya seorang pacar. Ya, apel malam minggu. Tapi dia bersikeras menolak untuk diapelin. Alasannya; “Nanti bapak saya marah. Karena selama di kelas I saya sama sekali tidak diperbolehkan mendatangkan teman laki-laki ke rumah. Apapun alasannya.” Waduh! Berat juga nih.

Tapi kemudian saya menemukan cara jitu untuk ngapelin dia tanpa dimarah sedikitpun oleh bapaknya. Mau tau kisahnya? Tunggu episode selanjutnya ya. :)

Lulus “S2″

30 Januari 2012

Karena belajar HTML di sekolah Anti Biasa yang berlogo Koepoe Biroe, saya mendapat gelar yang setara dengan pendidikan Pasca Sarjana, yaitu M.Si. Gelar ini diberikan khusus oleh Guru saya, Bpk. Marsudiyanto, M.P3, yang kebetulan memang seneng sama musik berformat .mp3, khususnya lagu I’m Yours-nya Jason Mraz. Tapi gelar S2 (baca: Suka-Suka) ini bukanlah kepanjangan dari Master of Science, tapi Master Stempel iseng. :lol: Read more…

Kisah Kenangan (1): Pelonco Cinta

29 Januari 2012

Saya jadi ketularan Pak Mars karena ingin sedikit bercerita tentang awal mula saya bertemu dan menyukai istri (mantan pacar) saya. Waktu itu saya kelas III SMEA dan menjabat sebagai Wakil Ketua Osis, sedangkan istri saya Kelas I baru dan sedang Mapras. Cerita berikut ini sebagai penyambung puisi pada tulisan Melukiskan Cinta dengan HTML yang saya tulis beberapa hari lalu. Read more…

Voice of The Wind

28 Januari 2012
tags: , ,

Puisi tentang Angin yang kemarin saya buat, sepertinya lebih seru kalau saya baca dengan gaya deklamasi tertentu (*narsis kumat*) sambil mendengarkan musik berikut ini. Musik instrumental ini judulnya Voice of The Wind. Setiap kali mendengarkan musik ini, mata saya jadi ngantuk. Coba rekan-rekan dengarkan musiknya. Bayangkan diri sedang rebahan di bale gubuk terbuka di tengah sawah dengan hamparan padi menghijau luas. Terus datang angin sepoi-sepoi membelai. Read more…

Oh, Angin…

26 Januari 2012
tags: , , ,

Api…
Bisa kurasakan panasnya.
Bisa kudengar gemeresaknya.
Dan bisa kulihat liuknya. Read more…