Puisi tentang Angin yang kemarin saya buat, sepertinya lebih seru kalau saya baca dengan gaya deklamasi tertentu (*narsis kumat*) sambil mendengarkan musik berikut ini. Musik instrumental ini judulnya Voice of The Wind. Setiap kali mendengarkan musik ini, mata saya jadi ngantuk. Coba rekan-rekan dengarkan musiknya. Bayangkan diri sedang rebahan di bale gubuk terbuka di tengah sawah dengan hamparan padi menghijau luas. Terus datang angin sepoi-sepoi membelai.
Saya teringat waktu kecil. Saat padi kami baru saja berbuah, saya seharian di tengah sawah untuk mengusir burung-burung pipit yang nakal. Ketika tengah hari tiba, sesudah makan, mata mulai mengantuk dan rebahan di bale gubuk (kubu) di tengah sawah.
Hari ini angin tidak bertiup kencang lagi. Malah terkesan sepoi-sepoi dan menyejukkan. Rupanya hujan tadi malam telah memberikan isyarat kepada ‘sang bayu’ supaya bergeraknya tak terlalu laju.
Apakah rekan-rekan pernah berada di tengah bentangan sawah yang menghijau sambil dibelai angin?
Waaah, musik instrumental.
Ya, saya senang musik instrumental.
sering dong, di sawah gandum pas musim panas
Sambil dengerin lagu di atas, pasti tambah rileks, El. Download aja…
pernah mas…makanya saya kangen banget sama sawah…soanya di jakarta engga ada sawah…
saya lebih suka angsung di padang rumputnya, rebahan sambil menatap langit lepas yang biru bebas…
anginnya sepoi membelai wajah…
di sampingnya ada orang yang paling dikangenin…wah…
beautiful mind…
Musiknya sudah saya dengarkan Bli, tapi belum sambil berpuisi
angin sepoy-sepoyyy yang sering ditemuin di jakarta: “saat jalanan lanjar, & mobil terbuka sedikit”
wah, kalau kota metropolitan susah cari sawahnya ya mbak? mesti ke bogor atau ke puncak sekalian buat cari yang hijau-hijau…
Sy besar di perkotaan jd rasanya sedih tdk sempat merasakan “kerinduan” angin sepoi menyapa
main ke desa, Via. sekarang ini padi di sawah lagi hijau-hijaunya… ingat bawa kamera…
Judulnya saja sudah bertemakan tentang angin, cocok apabila mendengarnya sambil tiduran di gubuk yang ada di sawah.
Wah..pasti langsung terhipnotis.
Saya nggak jadi2 posting gara-gara dengerin musik… ketiduran.
Efeknya memang sangat luar biasa ternyata?
Hihihihi…
Meskipun ngak kerja sawah lagi,namun masih punya untuk yang dilihat browwww…musinnya aku punya juga heeee
sawah yang di berangbang ya bro?
Pernah, tp suasana seperti ini sekarang harus beli …

DI daerah Sukabumi ada rumah makan yang lokasinya ada di tengah-tengah sawah … mantap.
Tapi ya itu, harus beli
Gk punya sawah soalnya ….
Memang mereka pinter melirik potensi bisnis ya mas. Suasana alami seperti ini bisa dikomersilkan….
Di tengah hiruk pikuk Jakarta, saya benar-benar merindukan suasana kampung.
Teringat dengan Tukad Sanghyang tempat bermain masa kecil dulu, sawah di Sombang dan Warnasari, hutan di Dewasana tempat liburan masa kecil dulu atau tegalan di Moding desa saya yang penuh pepohonan.
Musik ini begitu mendamaikan. Ah sial, ternyata kampung halaman itu merindukan yah. Pada dasarnya saya adalah anak desa…
Gus, mulih nak kapah2. Kalau di Moding itu banyak pohon kakaunya. Suasananya hijau, apalagi kalau musim hujan seperti ini…
Besok tiang pulang Pak. Meski cuma sebentar, tapi sepertinya bisa untuk sekadar mengobati kerinduan
musiknya mendayu-dayu… asyik… duh… ini cocok untuk tidur.
Jangan sering-sering dengerin mas. Nanti malah sampean tidur terus nggak update blog he he he.
wah.. ditengah sawah!!! Sudah pasti pernah. Rumah orang tuaku di Bangli dulu dibangun di tengah sawah (sekarang sawahnya sebagian sudah jadi bangunan tapi he he..)
Waktu saya kecil memang hidup di sawah Pak Tu. Berteman dengan capung, kedis perit, petingan, bondol kalau siang hari. Kalau malam saya berteman dengan kunang-kunang. Kalau musim hujan, berteman dengan katak dongkang..
Komplit! Bu Made memang penyayang binatang, termasuk serangga sekalipun, he he.
Mengenai kunang-kunang, dulu waktu kecil saya sering melihatnya… Tapi kenapa saat ini jarang ya bu?
Nah.. baru bisa nulis lagi di sini.Aneh!.
Mungkin karena penggunaan pestisida yang tinggi ya?
Alasan yang sangat masuk akal. Pestisida akan mengusir segala jenis serangga… Nggak tau harus kemana mencari kunang-kunang lagi…
Waktu kecil dan tinggal bersama nenek di kampung aku juga sering berada di sana Bli. Nama gubuk kecil itu Dangau di desa kami. Pada tiang dangau diikatkan tali penghubung dengan orang2an sawah. Jadi kalau ada pipit berniat mencuri padi, kita yang ada di dangau tinggal nari2k tali sehingga orang2an sawahnya bergoyang menakuti burung2 itu