Saya jadi ketularan Pak Mars karena ingin sedikit bercerita tentang awal mula saya bertemu dan menyukai istri (mantan pacar) saya. Waktu itu saya kelas III SMEA dan menjabat sebagai Wakil Ketua Osis, sedangkan istri saya Kelas I baru dan sedang Mapras. Cerita berikut ini sebagai penyambung puisi pada tulisan Melukiskan Cinta dengan HTML yang saya tulis beberapa hari lalu.
Begini ceritanya; suatu hari di masa mapras itu, saya menugaskan anak-anak Kelas I (baru) untuk mengambil batu kerikil dengan timba kecil ke sungai di lembah timur untuk dibawa ke sekolah. Ketika mereka kembali, saya mengecek satu per satu isi timba mereka. Jika ada yang isinya kurang, saya suruh dia kembali ke sungai untuk mengisi penuh, baru boleh balik ke sekolah lagi.
Entah sudah berapa kali saya menyuruh balik mereka yang isi timbanya tanggung. Hingga suatu ketika, seorang gadis dengan topi pandan bernomor 0266 mengumpat ke saya, “Cerewet sekali. Ini timba kan isinya kurang sedikit aja. Mosok harus kembali! Kejem banget. Awas nanti ya.” Lho, kok malah galakan dia sih. Siapa sih anak ini? Saya penasaran karena dia satu-satunya anak kelas I yang berani mengomeli saya waktu itu.
Pendek cerita, saya susul dia ke sungai bawah. Saya tanya dia dari mana, tapi nggak digubris sama sekali. Sepintas saya melihat matanya berkaca-kaca sambil menunduk memungut kerikil. Kemudian diam-diam saya bertanya kepada seseorang di sampingnya yang ternyata adalah sahabatnya, “Dia dari mana ya?” Anak ini kemudian menjelaskan bahwa si gadis galak itu adalah anak saudagar gabah yang sedesa dengan saya. Gila! Kenapa saya baru tahu?
Saya kenal baik bapak si gadis galak itu bahkan kami sering ngobrol bersama. Tapi kenapa saya malah nggak tahu dia punya anak gadis centil, cantik dan galak seperti itu? Saya kemudian merencanakan upaya pe-de-ka-te. Beberapa kali saya gagal, dan upaya apel pertama pun mengalami penolakan keras. Ingin tahu kisah selanjutnya? Silakan tunggu episode selanjutnya…
Foto di atas diambil sebelum kami jadian, tapi setelah kejadian cerita di atas. Lelaki bercelana hitam itu saya. Dan gadis galak itu ada di urutan paling kiri (dari depan saya).
Bersambung >> Nembak di Sudut Sekolah
Hihihi…
Menyimak…
Kayaknya nggak afdol kalau saya membaca, senang dengan bacaannya, terus gak komen.
Terima kasih komennya, mas.
Pingback: Kisah Kenangan (3): Nekat Apel Pertama « Life's Sharing
Pingback: Kisah Kenangan (4): Ultimatum 5 Menit « Budiastawa's Blog | Hidup adalah Berbagi
Pingback: Kisah Kenangan (3): Nekat Apel Pertama « Budiastawa's Blog | Hidup adalah Berbagi
Asyik nih kisahnya , mirip film remaja masa2 itu ya…, jangan2 ide dari kisah nyata ini ya?
Ini kisah nyata kami, Bunda. Saya menulis ini juga atas persetujuan istri saya. Asli lho Bunda, tanpa rekayasa dan pemanis buatan..
Pingback: Kisah Kenangan (2): Nembak di Sudut Sekolah « Budiastawa's Blog | Hidup adalah Berbagi
Huaaaaaa ada yang lagi nostalgila neh Cyiiinn
Ditunggu Bli kelanjutannya. Ekye paling demen dah baca yang beginian
Ditunggu kelanjutan ceritanya, bli?
wow …. masih ada fotonya pula …. kenagan tak terlupakan pastinya
Ya, Ely. Fotonya kudapat dari barisan foto kegiatan Osis waktu itu. Lumayan buat kenangan…
Waaa… Seru amat pertama ketemunya. Cinta pada pandangan pertama ya?
Ya, mas. Sekedar mengenang kembali. Biar nggak kelupaan…
Jadi inget waktu masa-masa perploncoan Mas.
btw, jadi penasaran dengan cerita PDKT nya nih. ditunggu Mas.
Semoga dengan mengenang kembali kisah awal ini menambah kemesraan Bli Budi berdua
Terima kasih, Pak Dhe… Kemesraan ini janganlah cepat berlalu….
Hehehe … mantap. Ditunggu cerita lanjutannya Bli …
Nggih, mas Harjo. Makasi sudah bersedia menunggu
Syukur saya nggak di situ. Kalau ada pasti sudah menjadi supporter utama gadis galak itu he he
Saya ada di belakang Bli Budi mbak…, udah saya bilangin ke cenya jangan mau…tapi karena anak baru dan ada perasaan takut makanya ia ngikut aja kata seniornya…
Dia itu nyerah sama pandangan mataku lho bro…. Kan aku desak dengan pertanyaan,” Kalau Mau bilang Mau, Kalau Nggak bilang Mau” Hue he hehe
Eit, mentang-mentang sesama Shio Ular, mau sekongkolan ya?