Budiastawa's Blog

hidup di planet ini tidaklah sendiri… maka hidup adalah berbagi…

Kisah Kenangan (1): Pelonco Cinta

Saya jadi ketularan Pak Mars karena ingin sedikit bercerita tentang awal mula saya bertemu dan menyukai istri (mantan pacar) saya. Waktu itu saya kelas III SMEA dan menjabat sebagai Wakil Ketua Osis, sedangkan istri saya Kelas I baru dan sedang Mapras. Cerita berikut ini sebagai penyambung puisi pada tulisan Melukiskan Cinta dengan HTML yang saya tulis beberapa hari lalu.

Begini ceritanya; suatu hari di masa mapras itu, saya menugaskan anak-anak Kelas I (baru) untuk mengambil batu kerikil dengan timba kecil ke sungai di lembah timur untuk dibawa ke sekolah. Ketika mereka kembali, saya mengecek satu per satu isi timba mereka. Jika ada yang isinya kurang, saya suruh dia kembali ke sungai untuk mengisi penuh, baru boleh balik ke sekolah lagi.

Entah sudah berapa kali saya menyuruh balik mereka yang isi timbanya tanggung. Hingga suatu ketika, seorang gadis dengan topi pandan bernomor 0266 mengumpat ke saya, “Cerewet sekali. Ini timba kan isinya kurang sedikit aja. Mosok harus kembali! Kejem banget. Awas nanti ya.” Lho, kok malah galakan dia sih. Siapa sih anak ini? Saya penasaran karena dia satu-satunya anak kelas I yang berani mengomeli saya waktu itu.

Pendek cerita, saya susul dia ke sungai bawah. Saya tanya dia dari mana, tapi nggak digubris sama sekali. Sepintas saya melihat matanya berkaca-kaca sambil menunduk memungut kerikil. Kemudian diam-diam saya bertanya kepada seseorang di sampingnya yang ternyata adalah sahabatnya, “Dia dari mana ya?” Anak ini kemudian menjelaskan bahwa si gadis galak itu adalah anak saudagar gabah yang sedesa dengan saya. Gila! Kenapa saya baru tahu?

Saya kenal baik bapak si gadis galak itu bahkan kami sering ngobrol bersama. Tapi kenapa saya malah nggak tahu dia punya anak gadis centil, cantik dan galak seperti itu? Saya kemudian merencanakan upaya pe-de-ka-te. Beberapa kali saya gagal, dan upaya apel pertama pun mengalami penolakan keras. Ingin tahu kisah selanjutnya? Silakan tunggu episode selanjutnya…

Foto di atas diambil sebelum kami jadian, tapi setelah kejadian cerita di atas. Lelaki bercelana hitam itu saya. Dan gadis galak itu ada di urutan paling kiri (dari depan saya).

Bersambung >> Nembak di Sudut Sekolah

23 Comments on “Kisah Kenangan (1): Pelonco Cinta

  1. Falzart Plain
    9 Februari 2012

    Hihihi…
    Menyimak…
    Kayaknya nggak afdol kalau saya membaca, senang dengan bacaannya, terus gak komen.

  2. Pingback: Kisah Kenangan (3): Nekat Apel Pertama « Life's Sharing

  3. Pingback: Kisah Kenangan (4): Ultimatum 5 Menit « Budiastawa's Blog | Hidup adalah Berbagi

  4. Pingback: Kisah Kenangan (3): Nekat Apel Pertama « Budiastawa's Blog | Hidup adalah Berbagi

  5. Monda
    2 Februari 2012

    Asyik nih kisahnya , mirip film remaja masa2 itu ya…, jangan2 ide dari kisah nyata ini ya?

    • budiastawa
      2 Februari 2012

      Ini kisah nyata kami, Bunda. Saya menulis ini juga atas persetujuan istri saya. Asli lho Bunda, tanpa rekayasa dan pemanis buatan.. :lol:

  6. Pingback: Kisah Kenangan (2): Nembak di Sudut Sekolah « Budiastawa's Blog | Hidup adalah Berbagi

  7. Susan Noerina
    31 Januari 2012

    Huaaaaaa ada yang lagi nostalgila neh Cyiiinn :-)

    Ditunggu Bli kelanjutannya. Ekye paling demen dah baca yang beginian :-)

  8. danyf5habibi
    30 Januari 2012

    Ditunggu kelanjutan ceritanya, bli? :D

  9. Ely Meyer
    30 Januari 2012

    wow …. masih ada fotonya pula …. kenagan tak terlupakan pastinya

    • budiastawa
      30 Januari 2012

      Ya, Ely. Fotonya kudapat dari barisan foto kegiatan Osis waktu itu. Lumayan buat kenangan…

  10. kishandono
    30 Januari 2012

    Waaa… Seru amat pertama ketemunya. Cinta pada pandangan pertama ya?

    • budiastawa
      30 Januari 2012

      Ya, mas. Sekedar mengenang kembali. Biar nggak kelupaan… :)

  11. Irfan Handi
    30 Januari 2012

    Jadi inget waktu masa-masa perploncoan Mas.
    btw, jadi penasaran dengan cerita PDKT nya nih. ditunggu Mas. ;-)

  12. marsudiyanto
    30 Januari 2012

    Semoga dengan mengenang kembali kisah awal ini menambah kemesraan Bli Budi berdua

    • budiastawa
      30 Januari 2012

      Terima kasih, Pak Dhe… Kemesraan ini janganlah cepat berlalu…. :D

  13. harjo
    29 Januari 2012

    Hehehe … mantap. Ditunggu cerita lanjutannya Bli … :-)

    • budiastawa
      30 Januari 2012

      Nggih, mas Harjo. Makasi sudah bersedia menunggu :D

  14. Ni Made Sri Andani
    29 Januari 2012

    Syukur saya nggak di situ. Kalau ada pasti sudah menjadi supporter utama gadis galak itu he he

    • Budi Arnaya
      30 Januari 2012

      Saya ada di belakang Bli Budi mbak…, udah saya bilangin ke cenya jangan mau…tapi karena anak baru dan ada perasaan takut makanya ia ngikut aja kata seniornya… :lol:

      • budiastawa
        30 Januari 2012

        Dia itu nyerah sama pandangan mataku lho bro…. Kan aku desak dengan pertanyaan,” Kalau Mau bilang Mau, Kalau Nggak bilang Mau” Hue he hehe

    • budiastawa
      30 Januari 2012

      Eit, mentang-mentang sesama Shio Ular, mau sekongkolan ya? :lol:

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 29 Januari 2012 by in Memori and tagged , .

Shortlink

http://wp.me/p32ST-c6

Navigasi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.