Menyambung kisah nostalgia saya saat pertama kali bertemu dan pacaran dengan wanita yang kini menjadi istri saya, berikut ini adalah penggalan kedua dari cerita itu. Episode lalu, baca di sini. Sejak saya menemui si gadis galak itu di sungai bawah, saya terus teringat padanya. Saya terus memikirkan bagaimana cara mendekatinya. Ah, ada satu cara. Ya, sahabatnya itu (cewek). Kebetulan sahabatnya itu masih saudara saya. Saya akan angkat dia sebagai ‘Mak Comblang’ kami.
Setiap ada kesempatan, saya mengorek keterangan dari si Comblang ini. Saya tanya apakah dia (si gadis galak) pernah membicarakan saya. Entah kenapa sejak kejadian timba dan kerikil itu, saya enggan bertemu langsung dengan si gadis galak itu. Ketika tak sengaja kami akan berpapasan, melihatnya dari jauh saya sudah dag dig dug. Dan ketika sudah mendekat, ah… kaku beku. Paling-paling sekedar menyapa ‘mau kemana’, gitu aja.
Lalu ada kabar gembira dari si Comblang. Suatu malam setelah belajar bersama, si Comblang nginep di rumahnya si gadis galak. Dan sebelum tidur, si gadis galak terus membahas tentang saya (ge-er). Saat menceritakan hal itu kepada saya, si Comblang memberikan pertimbangan, “Baiknya kamu tembak dia aja langsung, nanti saat jam istirahat. Yakin deh, pasti diterima.” Aha… saya mendapat harapan besar.
Mata pelajaran pertama hari itu saya lewati dengan gelisah. Ketika lonceng istirahat pertama berbunyi, detak jantung saya langsung memburu. Si Comblang sudah mengatur agar si gadis galak berada di pojok teras salah satu kelas. Saya mendekat dengan sejuta rasa campur aduk. Si Comblang pamitan pergi dengan alasan meyakinkan. Ah, tinggallah kami berdua.
Setelah basa-basi dulu ngalor-ngidul, saya akhirnya beranikan diri untuk berkata, “Sebenarnya…. sebenarnya… Saya suka sama kamu.” Berrrrr! Begitu kalimat itu berakhir, rasanya sekujur tubuh ini bergetar menanti jawaban. Beberapa detik saja serasa dua jam.
“Saya nggak bisa ngasih jawaban sekarang,” kata si gadis galak perlahan dan lembut. “Saya tahu bli masih punya pacar. Saya tidak mau merebut cowok orang.” Hah? Dari mana dia tahu?
“Tapi hubungan kami sudah tidak bisa dipertahankan lagi, Luh,” kata saya meyakinkan. “Ada hal yang sangat prinsip yang membuat kami sepertinya harus berpisah; perbedaan keyakinan,” ucap saya semakin serius. “Ya, saya tahu. Tapi sebaiknya bli selesaikan dulu masalahnya. Sementara saya masih mempertimbangkan jawaban…” kata si gadis yang saat itu tak lagi galak.
“Teng, teng, teng…” bunyi lonceng menandakan waktu istirahat habis. Dan kami kembali ke kelas masing-masing. Gelisah… dan galau menyelimuti saya waktu itu.
Esok malamnya, saya benar-benar menyelesaikan kepastian status hubungan saya dengan pacar sebelumnya. Ya, akhirnya kami berpisah. Segera setelah itu saya menemui si Comblang, menanyakan bagaimana perkembangan penyelidikannya terhadap si gadis. Si Comblang menyarankan saya untuk membuat surat khusus untuknya. Menurut Comblang, dengan surat kita lebih bisa mengolah kata dan bebas bertutur tanpa harus disela seperti saat bicara langsung.
Malam itu saya mencurahkan segala keahlian bahasa, kesenian menulis, dan kemampuan merayu yang saya punya. Entah sudah berapa lembar kertas yang saya remas karena saya anggap kurang sempurna. Akhirnya, setelah melalui proses editing berkali-kali, sebuah surat beramplop wangi saya serahkan kepada si Comblang. “Tolong berikan ini padanya,” pinta saya.
Singkat cerita; Setelah beberapa hari menunggu dalam gelisah, akhirnya surat balasan itu datang juga. Ini adalah surat penentu, begitu pikir saya. Baris demi baris saya baca. Hingga sampailah pada kata; “saya menerima Bli Tu, tapi dengan syarat….” Hah? Cinta bersyarat? Tapi nggak apa-apa. Begitu banyak poin yang menjadi persyaratannya, terserahlah. Yang penting satu hal; SAYA DITERIMA!
Sejak itu kami resmi pacaran. Dan ada sedikit tuntutan saya sebagaimana layaknya seorang pacar. Ya, apel malam minggu. Tapi dia bersikeras menolak untuk diapelin. Alasannya; “Nanti bapak saya marah. Karena selama di kelas I saya sama sekali tidak diperbolehkan mendatangkan teman laki-laki ke rumah. Apapun alasannya.” Waduh! Berat juga nih.
Tapi kemudian saya menemukan cara jitu untuk ngapelin dia tanpa dimarah sedikitpun oleh bapaknya. Mau tau kisahnya? Tunggu episode selanjutnya ya.
Bersambung >> Nekat Apel Pertama
Ternyata rasanya nembak orang itu sama semua, ya? Hehehe…
Pingback: Kisah Kenangan (3): Nekat Apel Pertama « Life's Sharing
Pingback: Kisah Kenangan (1): Pelonco Cinta « Life is Sharing | Budiastawa's Blog
Pingback: Kisah Kenangan (4): Ultimatum 5 Menit « Budiastawa's Blog | Hidup adalah Berbagi
Tiada tembakan yang paling indah kecuali nembak disudut sekolah…
Berbahagialah yg pernah nembak maupun yg ditembak
Pingback: Kisah Kenangan (3): Nekat Apel Pertama « Budiastawa's Blog | Hidup adalah Berbagi
Wahahaha sumpah bener-bener melankolis and seru sekali bli..hampir seperti skenario film ncih..wajib dishare nich bli Budi Astawa…Jadi inget masa2 sma yang berksean gara2 kejadian-kejadian seprti ini..hahahahhaa
Keep writing and inspiring bli Budi
Bli yg diputusin gak patah hati kan? Hahaha..pertanyaan keluar dari tema ini Bli…
Yah, namanya saja orang putus cinta. Dia memang kecewa, habis mau gimana lagi, kami berbeda prinsip dan keyakinan. Tapi putusnya baik-baik kok. Kini si mantan sudah menikah dengan orang yang seiman dan punya 3 anak.
Nebak ah, calon mertua diajak main catur ya…?
Jawabannya salah, Bunda
Tunggu aja ya. Besok saya posting.
postinganku besok ttg hal spt di atas bli, sdh siap luncur
aku tunggu El…
Bisa dibikin FTV nih di SCTV … Penasaran, apa yang dibawa Mas Budi yaaa sampe bapaknya gak marah
Salam kenal, Mas
pojokan sekolah nostalgia takkan terlupakan sepertinya, kalau sudah cinta berbagai ide untuk meyakinkan calon pacar banyak ya Bli
ceita apel malem minggunya pasti lebih seru lagi nih..
Walaupun gk dicertain isi suratnya, saya bisa tahu kaya apa isinya Bli …
Caranya menulis Postingan ini pasti jagonya …
Walah, mas Harjo bisa aja. Ya isinya pastilah rayuan yang paling maut yang bisa saya buat waktu itu mas
Huhuhuuu jadi inget masa SMA dulu..
Pas nembak enggak berani dan akhirnya nembak pakai surat..
Kalau saya nembak langsung iya, pake surat juga iya, mas Gie.
kisah kasih di sekolah dengan si dia…tiada kisah paling indah…kisah kasih di sekolah..
Aha itu lagunya Obbie Mesakh lah… KKDS!
Ooo saya kira itu lagunya Chrisye..
Seingat saya, yang pertama menyanyikan lagu itu Obbie Mesakh, penciptanya. Belakangan kemudian ada Chrisye, juga Marshanda yang ikut nyanyiin.
wah..peranan Comblang rupanya sangat strategis ya.. he he
Ya, bu Made. Dia sangat berjasa dalam hubungan kami. si Comblang itu masih bibi saya, tapi dari garis ibu saya. Makanya dia sangat mendukung saya…. kolusi dan nepotisme
wah makin seru aja nih ceritanya.
kudu dibikin sinetron remaja nih.
Mas Ilham sutradaranya, Oke?