Sinopsis Kopdar Jember
Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya ceritakan seputar Kopdar Jember. Untuk sementara saya akan wakilkan dalam satu kata saja: “Seru”. Saking serunya, rasanya saya tidak bisa menuliskannya hanya dalam satu postingan saja. Ceritanya cukup panjang. Mulai dari persiapan, suka-duka di perjalanan, hingga tibanya kita di Kabupaten Jember. Belum lagi cerita tentang keramahan dan kehangatan penyambutan Masbro dan Mbak Hanna, dkk di sana. Pada tulisan ini saya akan bercerita secara ringkas dulu. Nanti kalau ada waktu, saya akan tulis cerita rincinya penggal demi penggal.
Persiapan
Untuk saya sendiri, hampir tidak ada persiapan khusus. Tapi bro Budi Arnaya sepertinya persiapannya matang. Terbukti dari barang bawaannya yang mirip bacpacker dari Hongkong. Lha saya cuman bawa tas pinggang kecil dan jas hujan. Malam sebelum berangkat pun saya masih begadang menulis postingan. Jadi, boleh dibilang persiapan saya biasa-biasa aja.
Berangkat dan Nyeberang
Kita berangkat hari Sabtu (18/2) sekitar jam 06.30 Wita naik motor. Ketika kami mulai tancap gas ke arah barat, cuaca waktu itu sungguh tak bersahabat; hujan dan dingin. Saya membungkus diri dengan jas hujan, sementara bro Budi nemplok di punggung saya.
Ketika menyeberang dari Gilimanuk ke Ketapang ada sedikit kelegaan. Cuacanya bagus, pemandangannya pun bagus. Kapal yang kami tumpangi tiba di Ketapang lebih cepat. Penyeberangan kami hanya menghabiskan waktu 45 menitan.
Di sepanjang Banyuwangi
Turun di Ketapang, kami langsung belok kiri ke arah Jember. Di sinilah perdebatan dimulai. Saya terlalu meyakini teknologi GPS yang ada di HP saya. Sementara bro Budi bersikukuh dengan papan petunjuk di sepanjang jalan. “Jember lurus bro,” katanya berteriak di sebuah persimpangan. Saya ngotot, “Nggak. Belok kanan lho bro. Ini menurut GPS.” Bro Budi tak kalah ngotot, “Ah ikuti plang aja. Nggak mungkin orang salah pasang plang di sana!” Akhirnya saya nyerah. Manut aja apa yang dikatakan orang ini.
Jalan Banyuwangi – Jember agak rusak. Saya berkali-kali harus zig-zag menghindari lubang di jalan. Nggak jarang saya harus mengunci badan menahan getaran karena terpaksa menabrak lubang. Setibanya di GlenMore kami berhenti di sebuah pom bensin. Bro Budi sibuk menghubungi rekan di Jember, memberitahukan posisi terakhir kami.
Gunung Gumitir yang Tak Terduga
Ada satu medan yang sungguh di luar dugaan saya. Mungkin karena setiap kali saya ke Jawa selalu meliwati Pantura. Jadinya saya beranggapan jalan ke Jember hanya rata-rata saja. Ternyata ada medan yang naik turun berkelok-kelok dengan tikungan-tikungan tajam di Gunung Gumitir.
Melewati jalur Gumitir ini kami sedikit tegang. Belum lagi ada orang-orang yang saya nggak tahu apa itu pengemis atau bukan, mereka melambai-lambaikan tangan di pinggir setiap tikungan sambil setengah berteriak. Ini rasanya mengganggu konsentrasi di saat saya ingin fokus ke jalan yang juga agak rusak di sepanjang bukit itu.
Tiba di Jember
Ketika kami disambut jajaran pohon pinus yang indah, tanpa terasa kami sudah berada di pinggiran kota Jember. “Jember euy!”, begitu teriak bro Budi.
Kami terus menuju kota. Saling hubung-menghubungi dengan HP antara Bro Budi dan Masbro pun terus terjadi. Saya akhirnya menggunakan GPS untuk mencari nama jalan yang disebutkan Masbro. Kali ini GPS menang.
Kami akhirnya tiba di rumahnya Masbro dan Mbak Hanna (Patrang , Jember).
Di Rumahnya Masbro
Sungguh hangat kopi yang disuguhkan Mbak Hanna (Mbak Prita) siang itu. Mendung dan rintik-rintik di kota Jember membuat hawa sedikit dingin. Mbak Hanna seperti mengerti kalau kita harus menghangatkan badan dulu. Tapi sayang nggak ada jahenya (*maunya*). Di sana sudah ada beberapa rekan lainnya, di antaranya Shodung, Tita, Gani, dkk.
Kami pun mulai bercerita dan bersenda gurau. Suasananya seperti layaknya kita sudah sering bertemu. Inilah uniknya kopdar. Mungkin rekan blogger lain sudah mengalami; bahwa kopdaran itu meskipun baru pertama kali, tapi rasanya seperti sudah sering ketemu atau sudah biasa ketemu. Betul nggak?
Tak lama kemudian datanglah si imut ~Amela~, pemilik Dunia Pagi. Suasananya jadi tambah seru. Sayangnya Amel harus balik malam itu juga. Sehingga saya pun nggak bisa malam mingguan sama dia.
Sebenarnya sore itu saya mau keliling Jember dulu sama bro Budi. Tapi cuacanya berubah dari gerimis menjadi hujan lebat. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak.
Malam Mingguan di Jember
Menjelang malam, datanglah beberapa tokoh yang kita tunggu. Di antaranya adalah si pendiri Warung Blogger; bli Lozz Akhbar dan Kang Sofyan. Setelah berfoto-foto dan ngobrol sebentar, kami bermalam-mingguan ke alun-alun Jember. Saya sungguh merasa terhibur dengan canda tawa di sana. Ada hidangan, ada hiburan pula. Seru pokoknya.
Sayangnya kami sekembalinya dari alun-alun tak bisa berlama-lama lagi ngobrol dengan Masbro, dkk. Kami harus men-charge mata ini agar besok paginya bisa konsen di perjalanan pulang. Maaf ya, Masbro.
Kembali ke Bali
Esok subuhnya sebenarnya saya enggan bangun. Tapi bro Budi sudah membangunkan saya jam 5. Ketika hendak berpamitan pulang, Masbro dan Mbak Hanna malah berkesempatan mengajak kita sarapan dulu. Lagi-lagi kita ada kesempatan buat ngobrol dan sharing cerita. Terima kasih ya Masbro dan Mbak Hanna.
Kami pun akhirnya berpamitan resmi untuk meninggalkan Jember ke Jemberana. Berbagai kejadian yang kami alami dalam perjalanan pulang nggak akan saya ceritakan di sini, kepanjangan. Kami tiba di rumah sekitar jam 14.00 Wita. Sungguh perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan.
Sekali lagi kami berterima kasih atas segala keramahan, jamuan kehangatan dan canda ceria rekan-rekan selama saya di Jember. Lain waktu kita akan ketemu lagi.










Kapan mampir ke gubugku dan Giewahyudi di Jakarta, Bli?
Itu salah satu impian saya dari dulu, mbak Nunik. Suatu saat saya harus pernah ketemu Mbak Nunik dan mas Gie. Tulisan anda berdua adalah favorit saya.
Wah..asyik banget.Sayang kemarin saya pas pulang, nebeng urusan kantor. Dan waktunya pas hari raya. Jadi agak sempit, karena harus pulkam ke Bangli & ke Kintamani dulu. Suatu saat kita harus kopdaran juga ya Pak Tu..
Beh, bu Made liwat-liwat gen ne… Singgah na’e sekali-sekali ke Jembrana
Papanya Kak Vista, sedja juga mau dong kopdaran sama kak dhika dan kak vista di Bali
Ooooww, dengan senang hati sayang. Kapan Sedja mau ke Bali? Kita tunggu deh. Nanti kita keliling ke tempat2 wisata yang bagus, Oke?
Bli, awal juni nanti saya rencananya mau ke Lombok, berangkatnya dari Balikpapan ke Surabaya naik ferry. Nah, dari Surabaya mulai deh perjalanan darat naik mobil. Dan pastinya bakalan melintasi Bali sebelum tiba di Lombok.
Mudah-mudahan bisa nganterin Sedja kopdaran sama Kak Dhika dan Kak Vista yaa ;D
O iya? Dengan senang hati, Mbak. Nanti begitu nyampai di Pelabuhan Gilimanuk. Dengan menyusuri jalan utama menuju Lombok, sekitar 30 menit perjalanan mbak akan tiba di kota Negara, ibukotanya Jembrana. Nanti kita tunggu di sana. Nanti kita bisa kopdaran di RM Madinah. Nanti saya kasitau Papanya Cintya dan Agas (Budi Arnaya) supaya lebih seru.
membaca sinopsisnya, sudah terbayangkan bagaimana sensasi kopdar semakin membuat hangat persahabatan dunia blogging.
SALAM…
Suatu saat saya dan BliTu Suda harus pernah kopdar.
kayaknya seru juga ya bsa kopdar bareng dan ketemu bareng yang selama ini cuma bisa sapa lewat sebuah tulisan. Tapi saya swdikit penasaran ttg perjalanan di jalan yg berkelok kelok, maksud dari org setengah berteriak sambil melambaikan tangan itu apa?
Sukses ya buat kopdarnya, salam kenal
Terima kasih mas.
Itu orang yang melambaikan tangan di tikungan itu katanya minta duit. Menurut saya sih mereka nggak mengganggu, tapi memecah konsentrasi
Cak Budiii,,sayang Kopdar kemarin singkat sekali, belum lagi gerimis hampir sepanjang hari…kapan² gantian Bli Sofyan yang ke Bali
Ya, Kang. Kita kurang waktu ngobrolnya. Belum lagi was-was kalau ada hujan. Harusnya kita di alun-alun sampai pagi ya.
Ya ya. Kapan nih bli Sofyan ke Bali. Tinggal calling aja, kalau sudah turun di Gilimanuk. Kita yang jemput, gimana?
belum update nih Bli?
Belum bli
Masih ada upacara adat. Barusan nulis sembarang aja, biar gak lama hiatus.
Woh keren, ternyata naik motor to, Bli?
Saya kira naik mobil..
Senengnya bisa kopdar Jember..
Jadi pengen ketemu sama Masbro juga.
Ya, mas Gie. Naik motor. Lumayan juga capeknya. Tapi seneng sekali bisa kopdar. Mas Gie kapan ke Bali?
wah mas bud deket sama siapa itu??
Kamu cemburu ya, Tin?
saya kok gak diajak?
Semoga kelak kita bisa ketemu lagi ya Cak
Wa ha ha ha, sampean ini memang lucu, bli Lozz. Aku arep nyilih sedane, tak gowo nang Bali. Boleh, nggak?
Pemilik sedan putih? hahahaha… dadi iling sing wingi
ha ha ha, Bli Lozz arep mlebu nang sedane, Masbro. Tak kiro bli Lozz sing nduwe, ha ha ha
Bener Bli, kopdar itu rasanya seperti sudah kenal lama.
Saat saya ketemu PakDhe, suasananya seperti saudara yang lama nggak ketemu. Saya dan PakDhe, Istri saya dan Budhe rangkulan mesra, padahal dipinggir jalan dan tentu saja dilihatin orang.
Saat saya masih didalam pasar tiba2 PakDhe nelpon kalau sudah sampai alun2 Kendal. Saya segera keluar pasar dan menghampiri PakDhe. Setelah itu baru bareng2 menuju rumah saya. Kalo Mas Yayat malah datangnya mendadak. Saat nelpon tau2 sudah didepan rumah saya.
Mudah2an kalau nggak ada halangan, sekitar Mei atau Juni nanti saya ke Bali. Siapa tau kita bisa ketemuan
Wah, mendengar PakDhe mau ke Bali saja saya rasanya seperti mendapatkan hadiah ulang tahun, he he he. Semoga, Pak Dhe. Nanti tinggal telepon saya aja. Atau miscall saja. Saya dan bro Budi Arnaya pasti akan senang sekali.
Kami pun mulai bercerita dan bersenda gurau. Suasananya seperti layaknya kita sudah sering bertemu. Inilah uniknya kopdar. Mungkin rekan blogger lain sudah mengalami; bahwa kopdaran itu meskipun baru pertama kali, tapi rasanya seperti sudah sering ketemu atau sudah biasa ketemu. Betul nggak?
==> dan komen sy adalah…. SETUJUUUUU!!
He he he. Setuju berarti sepaham.
Dari baca ceritanya saja, ketularangan senangnya Bli…Hebat nian, bermotor ria Jembrana-Jember demi sebuah kopdar. Semoga persahabatannya abadi dan tetap manis seperti ini di tahun-tahun berikutnya
Makasih, mbak Evi. Siapapun yang berkomentar di blog ini, saya jadi pengen kenal lewat darat. Termasuk mbak Evi. Semoga suatu hari kita bisa kopdar.
kalau diceritakan semuanya…dua halaman yang cukup brow yach
wah jadi untuk kopdar itu ahrus menempuh perjalanan yang lumayan panjang yachh…..tp senang yach bisa ketemu teman maya di dunia nyata…..
Ya, mbak. Kita sengaja datang jauh-jauh dari Bali hanya untuk kopdar. Bro Budi Arnaya seperti ngidam kopdar dianya. Saya hanya pengantar saja, he he he.
foto fotonya bikin iri deh
…. seru banget ya bli kopdarannya
Ayo mbak Ely, mulih sek, kopdaran karo aku… yo opo?
Ikuttttttttt,,, lhoh, dah pulang, hehehhe…
Bli, kapan ketemu sama kita?? (Ami n Osar,, hehehe)
seneng banget ya bli bisa kumpul sama sahabat blogger, pengen banget deh ada di foto itu, ikutan haha hihinya…
hmm, jadi pengen juga kopdar ama blogger jember dan bali
salam kenal bli, sepertinya ini kunjungan pertama dhe..
seruu sepertinya jadi penge ikut kopdar d(^o^”)
Ikut kopdar kayaknya asik yaa
pengen nyobain jadinya….
Wah, jangan coba-coba mencoba ya Dek Bella. Soalnya kopdar itu bikin ketagihan lho.
Ayo kalau Dek Bella mau, kapan? dimana?
wah. itu tampang baru bangun tidur,.,. hahaha
iya nih, kita ga sempet malam mingguan ya bli..
pingin ikut ke alun2 juga..
Ya Mel. Meski pertemuan kita singkat. Tapi kan sudah seakrab 10 tahunan to?
wow perjuangan kopdar yang luar biasa
setara dengan hasilnya tapi ya?:D
jadi bisa ketemu sodara2 sewarung hehehe
Ini karena kemauan bro Budi Arnaya yang berapi-api. Saya tinggal ngikuti aja, mbak Nique. Kalau dia sudah punya mau, apapun harus terwujud. Dasar bocah gendheng dia itu…
wah asyik sekali ya kalau kopdar gitu… jadi pengen aku
Ayo mas, kapan?
wah, asik dan bajhagia pastinya kopdar di Jember ini ya Bli


bikin ngiriiii…….
hati2 lho Bli, kopdar antar blogger bisa bikin addict…..hahahaha
karena tiap kopdar selalu punya cerita sendiri yg indah antar peserta kopdar ….
salam
Tinggal nunggu Kopdar sama Bunda Lily…